Home > Taken From, Tips > Penipuan di ATM

Penipuan di ATM

Dari Millis lain………………..

Agar Lebih Waspada dengan  Kartu ATM Anda……….

Penipu mengincar dimanapun Anda berada………………

Silahkan baca cerita / kisah nyata dibawah ini………..

============ ============ ========= ========= ========= ========= =========
========= ==

PENIPUAN DI ATM

Peristiwa ini menimpa saya Hari Minggu yang lalu di salah satu ATM Mandiri

(sebut saja ATM1). Semoga tidak terulang pada pembaca.

Kejadian ini berawal ketika saya mau menarik uang di ATM Mandiri. Seperti

kadang-kadang terjadi setelah saya masukkan kartu ATM, layar ATM

menyatakan bahwa …..out of service atau ….maaf sementara tidak dapat

melayani. Tentu saja saya langsung tekan tombol Cancel untuk membatalkan

transaksi. Namun ternyata kartu ATM tidak kunjung keluar walaupun saya

ulangi berkali kali dan saya tunggu.

Di saat saya berharap kartu ATM segera keluar, tiba-tiba ada seseorang

laki-laki (sebut saja Mr X) yang membuka pintu ATM dan tindakan kurang

etis ini tentu agak mengejutkan saya. Orang tersebut yang tampil dengan

sikap dan wajah innocent (tanpa dosa) dan dengan cukup santai bertanya:

Bisa Pak? Kartu saya tadi tertelan pak! Karena merasa senasib, sikap saya

berubah dari curiga menjadi welcome. Setelah saya amati, ternyata kartu

saya tampak sedikit (kurang lebih satu millimeter) di bibir lobang kartu

ATM dan saya berusaha dengan menyelipkan dua kartu tipis untuk menjepit

kartu tersebut agar dapat saya keluarkan. Usaha saya itu mendapat respon

yang bersahabat dari Mr X dan segera pula ia membantu saya untuk menjepit

dengan kertas yang saya gunakan tetapi kartu ATM saya juga tidak berhasil

dikeluarkan.

Usaha berikutnya dilakukan oleh Mr X dengan menelpon “Bank” (katanya saya

telpon bank saja pak, 14000 ya? tanyanya dan tidak saya jawab karena saya

konsentrasi dengan usaha saya untuk mengeluarkan kartu ATM). Setelah dia

menceritakan apa yang telah terjadi dan salah satu ungkapannya di telepon

“kartu saya terganjal oleh bapak setelah saya pak!”. Mr X segera

menyerahkan HPnya karena pihak “Bank” mau bicara dengan saya. Pihak “Bank”

setelah menanyakan beberapa data seperti nama, tanggal lahir, nama ibu

kandung segera menuntun saya agar dapat mengeluarkan kartu ATM saya dan

tentu saja saya turuti.

Tekan tombol di bawah angka 9; tekan tombol di bawah angka 7; tekan pin

bapak; tekan ENTER. Keluar tidak pak? Tanyanya. Tidak, jawab saya.. Ok pak

saya akan bantu sekali lagi mengeluarkan kartu bapak. Ikuti petunjuk saya

tekan tombol di bawah angka 9; tekan tombol di bawah angka 7; tekan pin

bapak (pelan-pelan pak) dan saya sempat berpikir mengapa harus pelan?;

tekan ENTER. Singkatnya saya menekan PIN saya sampai sekitar tiga kali

yang disaksikan oleh Mr. X. Saya tidak sampai hati meminta Mr X keluar

dari ruang ATM karena ia telah meminjami HP dan “menolong saya”. Adegan

ini berarkhir ketika pihak “Bank” tidak berhasil membantu saya dengan

mengatakan: Ok pak, karena kartu bapak tidak bisa keluar, KARTU BAPAK SAYA

BLOKIR SAJA DAN SAAT INI KARTU BAPAK SUDAH TIDAK BERFUNGSI. Besuk bapak

segera ke Bank Mandiri setempat untuk minta terbitkan kartu baru. Karena

merasa aman, saya segera tinggalkan ruang ATM dengan mengucapkan terima

kasih kepada Mr. X setelah anak saya segera keluar dari mobil, menyusul ke

ruang ATM menanyakan apa yang terjadi (kata saya: kartu sudah diblokir,

kita pindah ATM lain saja nak).

Untungnya saya tidak menaruh semua telor saya dalam satu keranjang. Masih

ada keranjang lain tidak peduli ukurannya. Segera saya menuju ATM (sebut

saja ATM2) yang lain karena saya sudah ditunggu di salah satu toko untuk

suatu transaksi. Sebelum saya (bersama isteri dan anak saya) masuk ke ATM2

tiba-tiba SMS banking masuk dan menyatakan rekening saya terdebet Rp

1.500.000,-. Ketika itu saya baru sadar (menurut saya bukan karena

hipnotis, tetapi logis) bahwa MR X TADI TERNYATA PENIPU dan pihak “Bank”

yang bicara dengan saya adalah anggota sindikatnya.

Segera saya menuju ATM1 dengan melanggar lampu merah di perempatan jalan

sambil menghampiri Polantas setempat. Sampai di tempat kejadian, tentu

saja pelaku sudah kabur dan selama saya menuju kembali ke ATM1, rekening

saya selalu terdebet hampir setiap setengah menit Rp 1,5 juta dan

berkali-kali. Saya berusaha keras untuk memblokir via 14000 tetapi selalu

dijawab oleh mesin penjawab dan setelah sekian lama saya baru bisa bicara

dengan operator untuk melakukan pemblokiran. Apa boleh buat saat

pemblokiran saldo tinggal tersisa Rp 82 ribu.

Setelah dihubungi oleh pihak kepolisian, tidak lama berselang petugas ATM

Bank Mandiri datang dan membongkar mesin ATM. Ternyata di dalam ruang

kartu masuk telah diselipkan SEBATANG KOREK API yang telah dipotong

“pentolan” nya. Kata petuga bank: Inilah pak yang membuat kartu bapak

tidak bisa masuk….kejadian ini sudah sekitar satu tahun tapi pelakunya

belum juga tertangkap…. Dia (Mr X) bisa mengeluarkan kartu bapak dengan

tang/penjepit kecil…..Minggu lalu juga kejadian.

Begitu memasuki hari kerja saya laporkan ke Bank Mandiri dan petugas

Customer Service menyatakan kasus ini baru pak (wah rupanya pihak bank

ketinggalan juga, red) setelah dicek transaksi penarikan (oleh Mr X cs)

tiga kali Rp1,5jt; 1xRp500rb; dan karena maksimum penarikan per hari

Rp5jt, sisanya dihabiskan untuk belanja kilat (mungkin di toko emas) tentu

dengan memalsukan tanda tangan saya. Maaf pembaca, total kehilangan tidak

perlu saya beberkan semua, yang jelas tinggal Rp82rb alias habis dalam

waktu transaksi 17 menit.

KESIMPULAN:

1. Sindikat penipu memilih ATM yang terpencil, bukan yang di kantor bank

dan/ atau yang ada security-nya.

2. Mereka memilih hari libur agar nasabah tidak dapat menghubungi bank

setempat.

TIP AGAR HAL SERUPA TIDAK TERULANG PADA PEMBACA:

1. Gunakan ATM yang ada Bank-nya atau yang dekat security, hindari ATM

terpencil walaupun di ATM terpencil kita tidak perlu antre.

2. Jika kartu macet dan tidak bisa keluar dengan usaha sendiri, tinggalkan

saja karena orang lain tidak bisa menggunakan tanpa mengetahui PIN-nya dan

segera lapor ke bank setempat (tentu pada hari kerja).

3. Pada saat pembaca panik karena jadwal padat, ditunggu dalam waktu

singkat, sehingga secara emosional tidak stabil, mungkin juga sedang

berantem sebaiknya hindari transaksi menggunakan ATM karena daya analisa

menurun dan sangat memungkinkan terjadi kesalahan.

4. (Walau yang keempat ini tidak terkait dengan sub judul di atas)

rekening yang ber kartu ATM batasi jumlahnya. Yang lain simpan saja di

rekening tanpa kartu ATM dan jika terlanjur diberikan kartu ATM,

kembalikan saja ke bank dan bertransaksilah via kasir.

Mohon maaf jika pembaca tersita waktunya untuk membaca ulasan peristiwa

ini terutama bagi yang telah mendengar peristiwa serupa sebelumnya. Jika

kurang bermanfaat bagi pembaca, berikan (forward) info ini kepada rekan

yang lain, siapa tahu mereka membutuhkan. Terima kasih.

Jika suatu saat info ini sampai kepada Mr. X yang telah menipu saya, saya

berpesan carilah uang dengan cara lain karena melalui jerih payah, hasil

akan lebih bisa dinikmati. Anda berkualitas dalam mendapatkan uang cepat,

namun kualitas hendaknya memenuhi 5 indikator keseimbangan yaitu QCDSM

(Quality, Cost, Delivery, Safety, Morale). Anda baik dari sisi Quality

(cerdik); anda baik dari sisi Cost (dengan biaya rendah, hanya sebatang

korek api); anda baik dari sisi Delivery (dapat uang dalam waktu cepat);

tapi dari sisi Safety (anda aman….tapi hanya sementara lho); dan dari

sisi Morale (sayang angkanya cuma nol) karena melanggar norma.

Salam,

Wst

Best Regards,

MASARINA FLUKERIA

Categories: Taken From, Tips
  1. eko yudhi
    July 14, 2008 at 10:48 am | #1

    ini lo yang kena mas?udah balik dari jepang?

  2. July 12, 2008 at 1:13 am | #2

    mbok ya postinge dipedot, kedawan jok, ngelek-ngeleki tampilan awal. ndi cerito pulang kampungmu?

  1. No trackbacks yet.